Postingan

Tentang Kamu

Gambar
Tahukah?  Aku belum pernah merasakan getaran ini sebelumnya. Perasaan yang tibatiba hadir menghapus kebimbangan. Berbeda bahkan dengan pertemuan-pertemuan yang sudah silam dan kerap membuat air mata kesedihan tumpah. Sebab harapan selalu bermuara pada perpisahan. Tuhan, aku pernah bercerita padamu bukan? Tentang kehilangan dan rindu yang setiap hari datang. Perasaan yang senantiasa membuat hati risau. Yang kadang akalku bingung harus kemanakah rindu kutaruh? Meski kutahu, hakikat merindu hanyalah pada Sang Maha Pemberi Rindu. Tapi aku selalu percaya dan pernah membenamkan asa, bahwa semua kepahitan atas rasa sabar akan berbuah manis. Tuhan, terima kasih untuk pertemuan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Dengan dia sosok yang hanya sekadar kuanggap Ketua lantas kugemari dalam doa. Tuhan, bagaimanapun aku akan menjaga perasaan ini hingga hari itu tiba. Aku percaya dia lelaki yang kelak akan berada tepat di depan shaf ku. Menjadi Imam dalam rumah tangga, sosok yang senantiasa menegur...

Teruntuk Kamu Lelaki Masa Depanku ♥

Gambar
Bagaimana pun nanti bentuk pertemuan itu, aku yakin rencananya tak pernah keliru. Aku bahkan pernah mengatakan hal ini ketika langit belum resmi mempertemukan kita. Ketika doa doa panjangku terus tertuju pada satu nama yang entah untuk siapa. Kini, saat kutahu kamu yang terbaik aku tak ingin ini hilang begitu saja. Izinkan  aku terus menggenggam namamu di setiap derap doaku. Di penghujung malam yang tak semua orang bisa membangun harapan manis. Sebab bersamamu aku yakin semua yang kurasa sulit akan terlewati dengan mudah. Aku belum pernah merasakan getaran ini, debar yang terus tumbuh saat bersamamu. Mungkinkah?  Cinta melaut dalam pertemuan kita. Hingga akhirnya kita diberi ruang untuk menunggu waktu yang tepat. Yakinkan aku dalam setiap doamu, bahwa aku juga yang terbaik untukmu. Dan kuharap tak pernah ada lelah dalam penantian ini, aku menunggumu.  ♥ ~ 13 Juni 2018/ 28 Ramadhan 1438 H

09.05.18 ♥

Aku bingung harus mengetik kalimat ini dari mana, tentang debar, tentang harapan yang semakin nyata adanya. Dan semua hal indah yang terus membingkai kehidupan. Terima kasih N sudah hadir membenahi luka-luka dan harapan semu. Terima kasih sudah memercayaiku sebagai yang terakhir dalam hidupmu. Aku bahagia?  Tak perlu kuucapkan hal tersebut. Senyum dan keyakinan ini adalah bukti bahwa kamu satusatunya yang terbaik untuk terus kuperjuangkan hingga semesta meridhai. Biarlah mereka tak suka, aku dan kamu dipersatukan atas izinNya bukan?  Kita pernah samasama sibuk mencari, berjuang, kehilangan hingga dipertemukan kembali dengan sebentuk senyum baru. Terima kasih sudah membuatku nyaman berada didekatmu. Aku bersyukur ini adalah mimpi yang begitu nyata. Kamu hadir merebut seluruh kesedihanku. Sekali lagi terima kasih, seseorang yang kelak akan kupanggil Imam. ~24 Ramadhan 1439 H/ 2018 M

Rindu Ini Berat Si

Gambar
Untuk keberkiankalinya, air mata ini terjatuh begitu saja. Apakah tahu, tangisan ini kuciptakan untuk mematahkan rindu. Rindu kepada perempuan yang memiliki kepribadian yang anggun, berjiea keibuan dan selalu menerima kekurangan sahabatnya. Namanya Lusi, perempuan asal pasaman barat yang pernah sama-sama berjuang melewati arus perkuliahan. Di kota padang, tepatnya lubuk lintah. Hari ini setelah sekian waktu tak pernah melihat aktivitasnya di linimasa fb. Tiba-tiba dia mengunggah foto dirinya yang sedang mengelak dari kamera. Bahasa kerennya sih candid, mengenakan baju abu-abu dipadu dengan jilbab berwarna pink. Berlatar belakang bunga sakura yang juga berwarna merah jambu. Bibirnya merona, aku suka melihatnya. Disitu ia tampak begitu anggun. Kadang aku berpikir, wanita yang sudah menikah akan tampak lebih cantik, auranya keluar. Seperti dia, padahal sebenarnya dia gadis biasa, namun kebahagiaan itu terpancar dari caranya tersenyum menaklukan kamera. “Cantiknya istri Ari, komenku...

Petualangan Hidup

Gambar
Assalamuaalaikum Februari? Rasanya begitu cepat waktu berjalan. Izinkan sejenak aku megurai segala yang selama ini menyesakkan. Kali ini ketika langit berselimut kelam, ketika para jangkrik mulai bersuara. Aku kembali menemukan sebutir mutiara yang sangat berharga.  Tentang hidup, tentang bagaimana bertahan di atas cemoohan semesta. Jujur, dahulu aku pernah bermimpi untuk memiliki pekerjaan yang dapat mengubah hidupku. Hingga seusai gelar sarjana berhasil kuperoleh aku memutusknan untuk meninggalkan tanah kelahiran. Tanpa ibu, aku sendiri menyusuri perjalanan menuju Karawang selama 3 hari. Derai kesedihan yang membersamai kala itu. Dua bulan di karawang, setelah semua kelengkapan berkas diri seperti KK dan pembaharuan E-Ktp aku mulai bertarung nasib dengan ribuan pengangguran. Beberapa job fair yang ada selalu aku ikuti. Bahkan tak jarang aku memasukan lamaran ke beberapa perusahaan. Pernah aku tertipu oleh salah satu perusahaan yang illegal, letaknya di di salah satu kota yang ta...

Surat Untuk Jodoh

Gambar
Oleh : Maria Ulfa Assalamualaikum wahai seseorang yang namanya sudah tertulis di lauh mahfudz untuk menggenapkan segala kekuranganku. Apa kabar? Ini sudah memasuki Jumadil Awal di tahun1439 Hijriyah, dan sebentar lagi usiakau genap melampaui seperempat abad. tepatnya purnama ketiga di tangga kelima. Aku tidak pernah mendapat kado terbaik di tahuntahun sebelumnya, hanya saja doa dan harapan yang pernah mengalir selalu lekas kuaamiinkan agar semua terjawab di tahun ini. Kalimat syukurlah yang mampu mengiringi setiap detik perjalanan hidup. Aku tahu Allah tak pernah tidur, Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui tentang apa yang selalu bergetar dalam jiwa. Yang kumahu di tahun ini, aku hanya ingin melihat Ibu tersenyum itu saja, tentunya dengan aku menikah. Ya menikah, Ibu sudah terlalu senja, sisa usianya hanya bisa dinikmati dengan gerakan ibadah. Kerap hati ini menjerit untuk melepaskan semua kebimbangan hati. Wahai nun di sana, adakah kamu mendengar setiap butir doa yang terl...

Adakah Rencana Yang Paling Indah Selain RencanaNya?

Gambar
Oleh : Maria Ulfa Assalamualaikum,,, lama sekali rasanya tak bertamu di tempat ini. Padahal ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Kamu tahu? Ini hari ketiga aku didera sakit. Usai peringatan sumpah pemuda ke-89 di halaman kantor bupati dharmasraya tubuhku melemah. Mungkin karena efek tidak mengenakan jaket sepanjang 120 menit perjalanan. Aku pergi bersama rekan kantorku. Dia lulusan PGSD Trenggalek Jawa Timur. Lebih tepatnya teman semasa duduk di bangku putih dongker. Minggu siang, badanku menggigil ditambah cuaca diluar juga panas. Tak ada yang dapat meredakan panas saat itu kecuali berdoa serta meminum obat langganan yang selalu memenuhi laci kecil di kamar, minggu malam, aku tetap meminum obat tersebut hingga bertemu fajar di kaki hari minggu pertama, aku memutuskan untuk mengistirahatkan diri. Seharian dirumah membuat aku bosan, tapi aku baru ingat 30 Oktober adalah hasil pengumuman hasil seleksi SDM PKH 2017. Jemariku tak berhenti diam, terus memainkan toots di layar pon...

Shubuh

Setengah lima shubuh menyapa, dan namamu masih saja tereja Jangan khawatir, sebab aku hanya akan menjadi mendung di mega semu yang tak kau lihat juga tak akan mematahkan juangmu Aku hanya mengusik dari balik jendela buram, dan menegurmu dalam balutan diam Apa kabar? hanya kalimat itu yang dapat terkatakan Wahai nun di sana, aku masih ingin bergeming tentangmu Koto Ranah, 18/07/2017

Teruntuk Masa Depanku

Aku percaya ketika malam dihiasi rasi bintang dan sinar rembulan. Allah juga sedang menjagamu di sana. Dan tahukah? lisanku lirih mengeja namamu dalam setiap kepingan doa. Percayalah! Perihal rindu yang masih suci, belum ternoda debu-debu jumpa. Semoga penantian sederhana ini bermuara pada mata sungai yang jernih. Tak ada sebintik gerimis curang yang berupaya membawa kata pisah. Hingga basah pada selembar kertas rasa. Kuharap tak begitu, tak ada satu keliru yang akan datang bersama ketidakpahamanku. Malam ini, saat temaram tersiram cahaya teduh. Pada bilah-bilah sunyi yang hinggap di muka jendela kayu. Aku berbisik pada cakrawala berselimut sepi. Berharap semesta berkenan mendengar segala semoga yang mengalir pada sehelai lidah saat tengadah. Krwg/ 16.08.16 / 11.11 pm

Garis Waktu

Dan kemudian kau datang. Kau menjadi seseorang yang memorak-morandakan jagat rayaku. Dengan cara yang termanis, kau memintaku untuk merasakan dan mensyukuri segala hal yang cepat atau lambat akan berakhir. Maka izinkan aku menulis untukmu, tentangmu, meski aku tidak tahu apakah surat ini akan tiba di sisi ranjangmu, atau hanya terdampar di bentangan ufuk. Izinkanlah aku mengabadikan perjalanan kita, agar aku tidak lupa bahwa suatu ketika di antara perjumpaan dan seamat tinggal, malam pernah dipenuhi senyum, senja pernah menjadi bait puisi, hujan pernah mengantarkan kerinduan, dan tangan kita pernah saling bergandengan. Di antara perjumpaan dan selamat tinggal, kita pernah sekuat tenaga berjuang menyatukan perbedaan, meski di akhiri dengan kerelaan untuk menyerah. Di antara perjumpaan dan selamat tinggal, kau dan aku pernah menjadi kita. Tuh kan, baru cuplikan awal rasanya sudah mulai roboh. Enggan beranjak, dan harus kalian ketahui satu hal yang paling kucemaskan adalah ketika berpi...

Sajak Februari I

Teruntuk kamu, lelaki penggenggam masa depanku Hari ini izinkan aku menoleh kebelakang Bukan untuk mengulang Hanya sekejap mengenang Menemukan kembali arah yang pernah hilang Tentang senyum dan seutas kesedihan yang pernah datang Mungkinkah serupa dengan apa yang menyerak dalam dada Keinginan bersua sekali lagi, seraya berkata selamat Telah cukup keberanianmu untuk meminang gadis tersebut Perempuan yang kelak membenamkan kesedihanmu Februari, akhirnya aku mengerti betapa diri ini terlalu naif Mencoba melawan tinta perjalananNya tanpa terbesit bahwa Dia sebaikbaik perancang Terima kasih, sudah hadir dan melabuhkan namaku di sudut kecemasan Lantas langkah kian membisu tanpa tahu kemana arah hendak kutuju, hilang. . . . . 📝Karawang,  22 Februari 2017

Kerinduan

Gambar
Penulis ulung pernah berkata, luka adalah cara terhebat untuk bercerita. Dan benar, aku mulai merapikan ingatan dengan bahan bakar luka. Atas nama masa lalu yang kusut, hujan dan segala ketakpahaman pun beringsut, hadir sejenak menemani jemari menghapus mendung yang kau atur sedemikian rupa. Mulanya aku menyerah, langkahku sarat saat menuju kubikel bernama ikhlas.  Saat itu, hanya ada sajadah kumal yang sempat kubeli di kota bernama kenangan. Mukena cokelat yang kuperoleh dari Bukitinggi nyaris mengeluh karena jarang kucuci. Ah bukankah ini sudah malam, matahari mana yang rela menjemput basah. Aku terpaksa menahan bangkai keringat yang lama melekat, lalu menengadah di hadapanNya. Sejadi-jadinya kubiarkan bulir bening berinteraksi dari sudut bola mata kepada sang maha segala. Aku kemudian menghapus sisa-sisa kesedihan dengan punggung lengan yang gemetar. Getaran semesta kala itu begitu hebat, Tuhan apakah barusan engkau mendekapku erat? Ini pelukan hebat yang tak pernah kualami se...

Teruntuk Lelaki November

Gambar
Kita adalah sepasang rencana yang dipatahkan keadaan. Seperti jarak ini, aku pernah membenamkan kesedihan berkali-kali agar waktu tak pernah basah oleh penantian. Agar kau pun tenang melakukan aktivitasmu sehari-hari. Padahal ada banyak rindu yang tersemat di doadoa panjang, di antara jingga yang membentang juga pada hujan yang diarak mendung sebelum kelam menyelimuti semesta. Bagaimana bisa kau katakan aku tak sabar dalam kisah ini? kau tak perlu mengatakan aku pengecut sebab pernah abai pada rindumu. Aku juga rindu, bahkan disaat esok usiamu bertambah aku tak berani mengatakan apa-apa. Maaf keadaan ini telah membuatku lupa bahwa kau pernah menjadi bagian yang kusemogakan. Kau yang menuntunku seperti ini. Semoga tanpa sekotak kado dariku, juga puisi tentang jarak hariharimu tetap berjalan baik. Percayalah sebelum kau memikirkan tentang bagaimana keadaanku saat ini aku telah lebih dulu menuntaskan rasa bersalah ini. Bagiku semua belum usai, namun rasanya cukup membiarkan senyum ini ...

Biarkan Doa Yang Bersuara

Gambar
Sekarang Berganti Wali, Ayahku Sudah Tiada 😔 Bahkan untuk menyapamu saja aku tak berani. Aku siapa?  Perempuan yang gemar menerka-nerka. Seseorang yang hanya beralaskan doa saat rindu datang menyapa. Sempat terbesit dalam benak apakah kamu ikut memperjuangkan namaku atau tidak. Apakah hanya kamu sebuah nama yang mendapat ruang terbaik di hati ini? Izinkan sekali lagi menyebut namamu dari bilik penantian. Tuhan, yakinkan aku bahsa tinta takdirmu tak pernah salah. Jangan biarkan aku menelan kecewa saat rencanaku justeru berbelok pada ketetapan-Mu yang lebih ramah. Teruntuk kamu lelaki yang tengah kuselami lewat lantunan doa. Lelaki yang semoga mendapat restu Ilahi untuk membawaku ke Cinta hakiki. Aku akan tabah menjadi rumah untukmu berpulang . :))

Saat Kau dan Aku Pernah Menjadi Kita

Gambar
Bunga Depan Rumah Ketiadaanmu tak pernah kusesali. Aku bahkan mengerti semua ini hanya sebagian kecil rencana Ilahi. Jadi maaf atas semua kekhawatiran yang pernah kutujukan untukmu. Tentang kebimbangan yang juga bermuara pada namamu. Aku paham, pada akhirnya pelangi yang pernah kau gantung di langit hidupku akan tersapu waktu. Jadi biarkan aku mencoba tanpamu. Berjalan teratur seperti dulu ya saat pertama kita samasama membangun harapan.  Bersama senyum dan pertengkaran kecil kita lewati jalan berkerikil. Hingga akhirnya kau diamdiam runtuhkan benteng yang telah kita sepakati. Aku tak marah, bahkan aku tersenyum. Karena di saat kau terpuruk aku pernah menjadi bagian itu. Karena bagiku, bahagia bukan tentang menikmati hasil yang kau perjuangkan. Namun bagaimana berlayar bersama menghadapi badai sampai waktu membawa kita pada muara.

Timur 💌

Belakangan, setelah beberapa pulau menjadi gemunung penghalang. Ada harapan demi harapan yang kadang entah harus hinggap ke bahu mana. Bahkan aku ingin berjalan menyisir tepian laut yang berpagutan mesra dengan beribu pasir, putih Setulus kasih yang kau beri hingga membenam di jantung doaku Hey, kau yang kerap memintaku terjun dalam jurang rindu apa kabarmu?

Tiga Kosong Enam

Gambar
Jika ada yang bertanya, apa yang akan  kulakukan hari ini? Aku hanya ingin berbisik kepada langit, mengungkapkan bahwa aku bersyukur telah dipertemukan dengan sosok lelaki sepertimu. Er, tahukah hari ini angka1 dan 5 telah membersamai kita 306 hari. Setelah bulanbulan dan hari kemarin kita lalui dengan sarat perjuangan. Aku tak menyangka, perkenalan yang bermula dari sebuah novel kini bereplika menjadi keping-keping harapan manis. Terima Kasih untuk selalu ada dan memahami  kekurangaku. Terima Kasih untuk telinga yang senantiasa mendengar setiap rintih masalahku. Andai aku seorang pemberani, akan kuteriakan pada seluruh isi jagad, bahwa kau yang terindah, kau yang saat ini menjadi penguasa hatiku. Entah jika esok atau di lain masa. Karena aku pun sadar, setiap rencana yang kita semogakan ada ikut campur tangan sang Ilahi. Aku tak berhak melarang ketentuanNya. Andai kau tahu Er, aku tak pernah lelah menjagamu dalam doa, sering kubahasakan lewat udara hampa ketika malam kian...

Kesempatan Kedua

Bosse, apa kabar hari ini? Pasti lagi kebanjiran surat ya. Tetap semangat ya bosse, jangan bosan baca surat kami yang kadang nulis aneh-aneh. Aku senang bisa menulis surat untuk Post Cinta. Terima kasih ya untuk event yang sudah berjalan hampir memasuki 168 jam. Event yang sudah membuat aku mengasah kepekaan menulis. Bosse, ini kali pertama aku ikutan event menulis surat di post cinta loh. Berawal dari rasa penasaran yang terjadi di akhir musim februari lalu, yaitu ketika event 30 Hari Menulis Surat Cinta yang hampir selesai berjalan. Aku sangat kecewa, karena saat itu masih miskin informasi dan jarang buka twitter. Aku juga sempat menaruh keping-keping cemburu dengan penulis-penulis lain yang suratnya berhasil di post. Ah tapi kali ini aku beruntung, berkesempatan menulis surat di program #PostCintaTribu7e.Meski terlambat memperoleh info, alu bersyukur bosse masih memperbolehkan aku menulis di hari kedua hingga detik ini. Terima kasih ya bosse magang, untuk kesempatan kedua yang kud...

Surat Kelima Hari Keenam

Senja kali ini, aku bingung harus merangkai kalimat apa. Padahal aku sudah berjanji akan menulis surat untukmu. Ah kenapa jemari jemari ini begitu sarat mengeja kata demi kata untukmu dik. Apa kabarmu?  Ini februari kedua tanpa bersinggungan dengan senyummu. Setelah mengenakan jubah hitam dipadu toga kebanggaan. Perjumpaan kita benarbenar terputus oleh waktu. Aku melanjutkan mimpiku dan kau masih setia menimba ilmu di kota bengkuang. Sungguh, aku heran saat pertama bersua akhirnya kau tibatiba akrab menyapaku.Tak jarang kau bilang aku kakak cantik, terlebih saat kita berjumpa di antara anak tangga menuju perpustakaan institut. Aku senang, kau selalu riang dihadapanku. Seolah saat melihatmu tak ada beban yang menyandar di pundak. Kau anggun, baik, cantik bahkan aku pernah bergumam pada hatiku kau itu tampak seperti Irish Bella. Aku yakin siapa pun adam yang melihatmu akan terpesona. Aku juga masih ingat saat kau kecewa karena aku membatalkan Tour Study ke Pekanbaru. Saat kau tak ...

Untuk Sahabat Aprilku

Aku sudah di khitbah lo, ucapmu padaku dalam percakapan bbm.  Ah kenapa harus secepat itu, aku bahkan belum menyiapkan diri untuk menerima kenyataan hidup dengan lapang. Bukan aku tak bahagia mendapat kabar baik ini, aku bahkan langsung mengucap syukur alhamdulillah. Hanya saja aku merasa kalah dibanding kamu. Yasudah, aku tak ingin berlamalama menjadi pencemburu ulung. Ini hanya jeritan hati kecil yang enggan senyap saat melihat pembenaran waktu. Sekali lagi kukatakan, aku bahagia sangat. Akhirnya penantianmu berbuah manis. Aku masih ingat bagaimana akhirnya kamu ditinggal lelaki yang katanya akan melamarmu usai perayaan wisuda. Namun yang ada dia malah menerima perjodohan yang telah dirancang sedemikian rupa oleh keluarganya. Kamu hancur, dan aku tahu bagaimana persaanmu saat itu. Sering aku menasihatimu, kita juga sering saling menguatkan. Ah aku jadi teringat saat aku harus berjuang melawan pengkhianatan, kita harus memantaskan diri ucapmu padaku meyakinkan. Aku pun belajar ...