Sebut Saja Gadis November
Kepada sebuah nama, sebut saja gadis November. Siang ini, saat langit berselimut muram, diiringi langkah-langkah gerimis yang tak kunjung reda. Ada yang ingin kusampaikan, tentang segala rasa yang kian kicau dalam bennak. Perasaan yang kadang sulit kuterjemahkan. Entah suka, duka atau malah bercampur rempah-rempah cemburu. Ah aku bagai tak memahami apa yang mendera bathinku saat ini. Karena memang ini hanya bagian kecil dari pertanyaan hati. Yang kadang harus kucari jalan menuju pintu jawaban, atau mungkin harus kukubur dalam-dalam. Kau beruntung sekali pernah mengenal keluarganya. Kau beruntung pernah berjabat tangan dengan sesosok yang amat ingin kusapa ibu. Kau juga beruntung pernah menjadi bagian terindahnya. Tak banyak kata, kali ini aku hanya meminta maaf kepadamu. Selama ini aku selalu gemar memantau keberadaanmu dari jauh. Melihatlihat percakapanmu dengan dia. Kadang aku resah, saat kau terlihat akrab bersamanya. Berkali-kali bahkan karena kebodohan yang kucipta sendiri, per...