Postingan

Surat Untuk Jodoh

Gambar
Oleh : Maria Ulfa Assalamualaikum wahai seseorang yang namanya sudah tertulis di lauh mahfudz untuk menggenapkan segala kekuranganku. Apa kabar? Ini sudah memasuki Jumadil Awal di tahun1439 Hijriyah, dan sebentar lagi usiakau genap melampaui seperempat abad. tepatnya purnama ketiga di tangga kelima. Aku tidak pernah mendapat kado terbaik di tahuntahun sebelumnya, hanya saja doa dan harapan yang pernah mengalir selalu lekas kuaamiinkan agar semua terjawab di tahun ini. Kalimat syukurlah yang mampu mengiringi setiap detik perjalanan hidup. Aku tahu Allah tak pernah tidur, Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui tentang apa yang selalu bergetar dalam jiwa. Yang kumahu di tahun ini, aku hanya ingin melihat Ibu tersenyum itu saja, tentunya dengan aku menikah. Ya menikah, Ibu sudah terlalu senja, sisa usianya hanya bisa dinikmati dengan gerakan ibadah. Kerap hati ini menjerit untuk melepaskan semua kebimbangan hati. Wahai nun di sana, adakah kamu mendengar setiap butir doa yang terl...

Adakah Rencana Yang Paling Indah Selain RencanaNya?

Gambar
Oleh : Maria Ulfa Assalamualaikum,,, lama sekali rasanya tak bertamu di tempat ini. Padahal ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Kamu tahu? Ini hari ketiga aku didera sakit. Usai peringatan sumpah pemuda ke-89 di halaman kantor bupati dharmasraya tubuhku melemah. Mungkin karena efek tidak mengenakan jaket sepanjang 120 menit perjalanan. Aku pergi bersama rekan kantorku. Dia lulusan PGSD Trenggalek Jawa Timur. Lebih tepatnya teman semasa duduk di bangku putih dongker. Minggu siang, badanku menggigil ditambah cuaca diluar juga panas. Tak ada yang dapat meredakan panas saat itu kecuali berdoa serta meminum obat langganan yang selalu memenuhi laci kecil di kamar, minggu malam, aku tetap meminum obat tersebut hingga bertemu fajar di kaki hari minggu pertama, aku memutuskan untuk mengistirahatkan diri. Seharian dirumah membuat aku bosan, tapi aku baru ingat 30 Oktober adalah hasil pengumuman hasil seleksi SDM PKH 2017. Jemariku tak berhenti diam, terus memainkan toots di layar pon...

Shubuh

Setengah lima shubuh menyapa, dan namamu masih saja tereja Jangan khawatir, sebab aku hanya akan menjadi mendung di mega semu yang tak kau lihat juga tak akan mematahkan juangmu Aku hanya mengusik dari balik jendela buram, dan menegurmu dalam balutan diam Apa kabar? hanya kalimat itu yang dapat terkatakan Wahai nun di sana, aku masih ingin bergeming tentangmu Koto Ranah, 18/07/2017

Teruntuk Masa Depanku

Aku percaya ketika malam dihiasi rasi bintang dan sinar rembulan. Allah juga sedang menjagamu di sana. Dan tahukah? lisanku lirih mengeja namamu dalam setiap kepingan doa. Percayalah! Perihal rindu yang masih suci, belum ternoda debu-debu jumpa. Semoga penantian sederhana ini bermuara pada mata sungai yang jernih. Tak ada sebintik gerimis curang yang berupaya membawa kata pisah. Hingga basah pada selembar kertas rasa. Kuharap tak begitu, tak ada satu keliru yang akan datang bersama ketidakpahamanku. Malam ini, saat temaram tersiram cahaya teduh. Pada bilah-bilah sunyi yang hinggap di muka jendela kayu. Aku berbisik pada cakrawala berselimut sepi. Berharap semesta berkenan mendengar segala semoga yang mengalir pada sehelai lidah saat tengadah. Krwg/ 16.08.16 / 11.11 pm

Garis Waktu

Dan kemudian kau datang. Kau menjadi seseorang yang memorak-morandakan jagat rayaku. Dengan cara yang termanis, kau memintaku untuk merasakan dan mensyukuri segala hal yang cepat atau lambat akan berakhir. Maka izinkan aku menulis untukmu, tentangmu, meski aku tidak tahu apakah surat ini akan tiba di sisi ranjangmu, atau hanya terdampar di bentangan ufuk. Izinkanlah aku mengabadikan perjalanan kita, agar aku tidak lupa bahwa suatu ketika di antara perjumpaan dan seamat tinggal, malam pernah dipenuhi senyum, senja pernah menjadi bait puisi, hujan pernah mengantarkan kerinduan, dan tangan kita pernah saling bergandengan. Di antara perjumpaan dan selamat tinggal, kita pernah sekuat tenaga berjuang menyatukan perbedaan, meski di akhiri dengan kerelaan untuk menyerah. Di antara perjumpaan dan selamat tinggal, kau dan aku pernah menjadi kita. Tuh kan, baru cuplikan awal rasanya sudah mulai roboh. Enggan beranjak, dan harus kalian ketahui satu hal yang paling kucemaskan adalah ketika berpi...

Sajak Februari I

Teruntuk kamu, lelaki penggenggam masa depanku Hari ini izinkan aku menoleh kebelakang Bukan untuk mengulang Hanya sekejap mengenang Menemukan kembali arah yang pernah hilang Tentang senyum dan seutas kesedihan yang pernah datang Mungkinkah serupa dengan apa yang menyerak dalam dada Keinginan bersua sekali lagi, seraya berkata selamat Telah cukup keberanianmu untuk meminang gadis tersebut Perempuan yang kelak membenamkan kesedihanmu Februari, akhirnya aku mengerti betapa diri ini terlalu naif Mencoba melawan tinta perjalananNya tanpa terbesit bahwa Dia sebaikbaik perancang Terima kasih, sudah hadir dan melabuhkan namaku di sudut kecemasan Lantas langkah kian membisu tanpa tahu kemana arah hendak kutuju, hilang. . . . . 📝Karawang,  22 Februari 2017

Kerinduan

Gambar
Penulis ulung pernah berkata, luka adalah cara terhebat untuk bercerita. Dan benar, aku mulai merapikan ingatan dengan bahan bakar luka. Atas nama masa lalu yang kusut, hujan dan segala ketakpahaman pun beringsut, hadir sejenak menemani jemari menghapus mendung yang kau atur sedemikian rupa. Mulanya aku menyerah, langkahku sarat saat menuju kubikel bernama ikhlas.  Saat itu, hanya ada sajadah kumal yang sempat kubeli di kota bernama kenangan. Mukena cokelat yang kuperoleh dari Bukitinggi nyaris mengeluh karena jarang kucuci. Ah bukankah ini sudah malam, matahari mana yang rela menjemput basah. Aku terpaksa menahan bangkai keringat yang lama melekat, lalu menengadah di hadapanNya. Sejadi-jadinya kubiarkan bulir bening berinteraksi dari sudut bola mata kepada sang maha segala. Aku kemudian menghapus sisa-sisa kesedihan dengan punggung lengan yang gemetar. Getaran semesta kala itu begitu hebat, Tuhan apakah barusan engkau mendekapku erat? Ini pelukan hebat yang tak pernah kualami se...