Postingan

Beginilah Keseharian Polisi di Karawang

 Oleh : Maria Ulfa Pagi dengan udara sejuk kota Pangkal Perjuangan, saat burung-burung tengah asik bersahut di atas ranting pohon seri, kulajukan mio hijau ke arah lampu merah dekat terminal Klari, sayang jalan penyebrangan di tutup oleh sejumlah polisi lalu lintas dan petugas dinas perhubungan, aku memutuskan untuk menunggu karena biasa waktu penutupan jalan tidak lebih dari setengah jam pukul 07.00 -07.30 WIB namun hari ini ada yang berbeda, saat kulihat arloji hitam di sebelah tangan kanan, waktu telah menunjukan pukul 07.42 WIB. Dengan nada kecewa kuputar kunci bergantung kitty ke arah tulisan on, aku menuju tanjakan sebelah kiri arah ke Cikampek, memutar belok tubuh mio. Seperti biasa aku menggunakan masker kuning, helm merah dan sarung tangan berwarna hijau, aku tau cuaca di Karawang tak seramah tempat aku dilahirkan. Salah satu desa terpencil yang ada di Sumatera Barat , Dharmasraya tepatnya di Desa Telaga Biru, selaras perkembangan zaman kini berganti nama menjadi Naga...

Sebuah Sinar

Oleh : Maria Ulfa   Bagaimana mungkin aku menolak sebuah sinar   sementara aku butuh setitik cahaya   ketika berada di lorong kegelapan   Tapi, sinar itu masih belum layak menyinari   Ada beberapa asbab yang harus terpenuhi   Biar, biarlah aku berada dalam pekat gulita   Sejatinya Tuhanku masihlah ada   Setitik ayat yang termaktub dalam kitab suci   Mampu berpijar lebih pendar   melebihi gemerlap bintang-bintang   yang terhampar di dada malam   Karawang, 26 Maret 2016  

Untukmu Seorang Sarjana

Oleh Maria Ulfa Kita pernah berdiri selaras di tanah-tanah perjuangan Menimba ilmu tanpa batas melawan aral dan rintagan Mengukir mimpi-mimpi meraih tujuan-tujuan  Kadang tertatih-tatih kadang juga bangkit   Melepas debu-debu putus asa Yang menempel pada dinding pengorbanan Sahabat, ini harimu Hari yang sudah lama kau tunggu-tunggu Setelah beberapa tahun silam kau diam terpaku Hanya untuk suatu gelar baru ya Sarjana.. Kau sudah sarjana sahabat tak banyak yang kupinta Pandai-pandailah dalam berkata gunakan ilmu semaksimalmu Sebarkan benih-benih kebajikan di ladang kehidupan Karawang, 26 Maret 2016

Tanpamu Aku Bisa

Tulalit tulalit, kurang lebih seperti itu bunyi dering ponsel samsung berlipat, berwarna putih susu. Kurogoh saku kanan dengan tangan gemetar kutatap layar ponsel, nol delapan sekian-sekian memanggil, tanpa berpikir panjang kuangkat "Assalamualaikum" ucapku sambil mengelus dada takut jantungku lepas karna yang menelpon orang terpentimg di hidupku, sesekali aku mengerjap-ngerjapkan mata, semua terasa dalam mimpi orang yang selalu kukemas dalam doa akhirnya menghubungi. "Waalaikumsalam" jawabnya pelan dari dalam suara ponsel. Tak banyak yang kami bahas durasinya pun hanya 00.03.05 detik saja, seperti sahabat kebanyakan kami menanyakan perihal kabar dan lainnya, sampai akhirnya "maaf neng kok putus-putus abang matian lu dih, beko di sambuang liak." Belum sempat kujawab pertanyaanya panggilan telah di akhiri. Seusai itu, mataku hanya tertuju pada layar ponsel berharap ia tak membohongiku, 1 menit berlalu 2, 3, empat dan 5 menit pun ber...

Menyambut Hari Air Sedunia Kota Padang Justru di Landa Banjir

Keterkagumanku terhadap hujan tak kan sirna, walau kini hal yang kusuka menoreh luka di hati para korban banjir di Kota Padang, maafkan dirimu untuk tidak mengutuk ketentuanNya ingat bukankah dia yang maha tahu atas segala perkara, barangkali Tuhan sedang menegur kita apakah selama ini kita sudah benar memanfaatkan kekayaan alam dengan baik atau tidak, di sini saya lebih cenderung berpikir positif saja sebab apa, dibalik rencanaNya yang hebat walau berpuluh-puluh bulir menetes di pipi kit a akan tiba masanya kita tersenyum kecil mengatakan bahwa aku bersyukur Tuhan telah mengujiku, telah mendatangkan bencana di Negriku ada satu hikmah yang menjadi pengalaman pribadiku beberapa tahun silam semasa aku  duduk di bangku perkuliahan, kos-kosanku yang letaknya tak jauh dari kampus jika hujan menerpa alhamdulillah selalu mendapat jatah banjir, kami berhamburan keluar kamar, berkumpul bersama dengan tetangga kos yang tadinya hanya cuek-cuekan kami saling tegur sapa mengecek se...

Cerita Sore Menjelang Sunset

Tadi, seusai kerja tepatnya pukul empat sore aku tidak langsung pulang ke rumah, dengan wajah lelah berselimut peluh kulajukan sepeda motor mio berwarna hijau ke arah toko barang-barang, aku lupa nama toko itu apa. Kutanggalkan helm berwarna merah memudar maklum aku belum punya helm ini pun masih meminjam helm kakakku, kubuka masker penutup mulut bergambar helo kitty berwarna kuning lembut bercampur merah jambu. "Pak ada gelas yang pakai tutup ndak"? ujarku sambil melihat ke tumpukan gelas-gelas dan piring plastik di atas rak-rak, "ga ada neng eh maksud bapak gelas apa sih maaf bapak sudah tua kurang mendengar" si bapak tua itu merasa bingung jelas2 tadi kubilang gelas yang pakai tutup "maksud saya pak di toko bapak ini ada ndak jual gelas mug yang pakai tutup, aku kembali menjelaskan apa yang sudah kusampaikan sebelumnya, "oh mug pakai tutup neng banyak nih liat saja sebelah kanan", sambil menunjuk beberapa bentuk gelas yang tersedia di ...

TAUKAH

Oleh : Maria Ulfa Taukah? Setiap malam aku harus berbincang dengan sunyi Memutar melodi-melodi sepi Mengusir serdadu-serdadu pedih Mengelupas rindu dari kulit-kulit ingatan membolak-balik kenangan agar tumpah ke lautan tabah Taukah? Di malam nan temaram Entah berapa kali namamu Kusulam lewat doa paling tekun Kueja kurangkum penuh ingin Kukabarkan lewat desir paling angin Lihatlah Tataplah purnama tua Lewat cahayanya yang pendar Telah kutitip seikat bahagia paling mekar Untukmu seseorang yang telah sukar kumiliki.